Mirror Mirror
Awalnya, saya menganggap film ini modifikasi cerita Snow White biasa: cerita anak-anak yang penuh mimpi dijadikan cerita yang lebih nyata. Tetapi, modifikasinya ternyata lumayan ‘berat’.
Ceritanya, Ratu jahat itu menanamkan pengaruh sihirnya kepada Raja sehingga dia pergi ke hutan dan menghilang, lalu menguasai kerajaannya dengan ilmu hitam. Diceritakan di sana, kerajaan yang tadinya riang gembira, penuh bunga, dengan orang-orang yang senang menari, berubah menjadi suram dan diliputi es. Penduduknya kedinginan dan kelaparan. Ini akibat sang Ratu yang senang berpesta sehingga keuangan kerajaan habis dan mereka menaikkan pajak rakyat.
Pertama, sang Pangeran tidak menjadi sosok yang heroik, justru culun dan butuh banyak pertolongan. Sejak awal cerita saja dia sudah ditelanjangi oleh ketujuh kurcaci yang menjadi preman hutan. Selanjutnya, kekayaan si pangeran akan dimanfaatkan oleh ratu yang sedang bangkrut dengan cara meminta sang Pangeran menikahinya. Untuk itu dia menambahkan ramuan di di minuman si pangeran, tapi ternyata salah ramuan. Yang ditambahkan adalah puppy love, sehingga sang Pangeran jadi berperilaku seperti anjing yang sangat patuh pada majikannya. Hingga akhirnya, dia diselamatkan oleh Snow White melalui sebuah ciuman (kalau di film aslinya kan sang pangeran yang membebaskan Snow White dari mantra jahat sang Ratu).
Kedua, para kurcaci bukanlah penambang berlian yang setiap pagi berangkat dan pulang di sore hari dengan menyanyikan lagu ‘Heigh-Ho’. Mereka adalah orang-orang yang dibuang oleh Ratu dan tidak ditolong oleh penduduk lainnya yang ketakutan. Dulu, mereka punya pekerjaan dan profesi masing-masing. Tapi, setelah dibuang, mereka bersatu dan mencuri barang-barang milik orang kaya yang melakukan perjalanan melewati hutan tempat mereka tinggal.
Ketiga, Snow White sudah mengalami emansipasi!
Bukan hanya memasak dan membersihkan rumah para kurcaci, Snow White juga belajar bertarung dengan pedang dan akhirnya diakui sebagai pemimpin para kurcaci.
Snow White juga menyelamatkan kurcaci dari serangan boneka sihir sang Ratu. Jadi, Ratu mengirimkan boneka tali yang digerakkan secara sihir untuk memusnahkan Snow White dan para kurcaci. Kebetulan ketika kedua boneka tali itu datang, Snow White sedang menyendiri karena patah hati mendengar sang Pangeran akan menikahi Ratu. Dia kembali tepat ketika teman-temannya terpojok dan menemukan cara melumpuhkan si boneka tali (ya dengan memotong talinya, tentu saja).
Setelah serangan boneka itu, Snow White menyadari bahwa keberadaannya hanya akan membahayakan teman-teman kurcacinya. Maka, ia pun meninggalkan surat (dan makanan) lalu pergi dari rumah tersebut. Ketujuh kurcaci sangat sedih membaca surat itu dan bertekad mencari Snow White. Lucunya, begitu mereka membuka pintu, Snow White ternyata belum pergi. Masih ada di halaman rumah mereka.
) *nggak jelas ini film maunya apa*
Keempat, Raja ternyata tidak mati. Dia menghilang di dalam hutan karena pengaruh sihir Ratu yang menjadikannya monster. Ketika diserang oleh monster itu, Snow White melihat kalung berbentuk bulan sabit yang juga dipakai oleh ibu tirinya. Ia memutuskan rantai kalung tersebut dan si monster menjelma menjadi ayahnya. How lovely!
Lalu, cermin ajaib di dinding ternyata tidak langsung memunculkan bayangan si penyihir jahat. Ketika Ratu mengucapkan, “Mirror mirror on the wall…” si cermin beriak seperti air dan Ratu bisa masuk ke dalamnya (tentu, tanpa basah kuyup) dan muncul di depan gubuk di tengah air. Di dalam gubuk itulah Ratu akan bertemu dengan penyihir jahat yang ternyata adalah dirinya sendiri.
Dan, yang paling aduhai dari film ini adalah penutupnya, ketika Snow White akhirnya menikahi sang Pangeran di depan ayahnya. Setelah diresmikan sebagai suami-istri, Snow White-nya joget India… X_X Baik lagu maupun koreografinya sangat India, termasuk bagian ‘menempel di tiang’ sambil bernyanyi. Judul lagunya I Believe in Love. Please enjoy (lupakan sejenak cerita Snow White and the Seven Dwarfs dari masa kecil kita)!
- Dituliskan dalam: Film