Game of Thrones-A Song of Ice and Fire
Berawal dari sepotong episode di kamar hotel, sejak itu ceritanya membuat saya penasaran total. Karena nggak berlangganan televisi kabel yang menayangkan serial tersebut, akhirnya saya memutuskan untuk membeli ebook-nya di Kindle. Cukup serius, mengingat saya biasanya unduh yang gratisan saja…
Perjuangan berlanjut dengan membaca ebook tersebut selama berbulan-bulan. Yup, saya nggak salah ketik. Benar-benar berbulan-bulan. Bahkan, kalau capek membacanya, saya ganti dulu dengan membaca buku lainnya dulu. Lalu, bersambung lagi ke cerita ini. Padahal, biasanya kalau sudah terputus, saya paling males nyambungnya lagi. Tapi yang ini sungguh serius membacanya.
Setelah akhirnya selesai baca buku, ternyata masih berlanjut dengan ingin nonton serial televisinya. Untungnya, saking kelamaan bacanya, serial di televisi sudah sampai berakhirnya session 1. Jadi, saya sudah bisa mendapatkan dvd session 1 lengkap! Lalu, karena cuma bisa menonton di akhir pekan, saya perlu waktu 2 minggu untuk menghabiskan 10 episode. Session 1 tampaknya hanya menceritakan isi buku pertama, A Song of Ice and Fire.
Yah, begitulah. Panjangnya cerita ini sama panjangnya dengan cerita saya membaca buku dan menonton filmnya. Jadi, saya memutuskan untuk memasukkan resensi ini ke dalam dua kategori: film dan buku. By the way, mungkin karena dialihkan ke film seri dan bukannya film layar lebar, ceritanya nggak terlalu mengecewakan dibandingkan bukunya. Biasanya saya paling anti baca buku sebelum nonton filmnya.
Mengutip kata-kata Justin Bieber, di sebuah negara antah berantah, ada tujuh tuan tanah yang dikenal sebagai Seven Kingdom: house of Baratheon, Lannister, Stark, Arryn, Tully, Tyrell, Targaryen, Greyjoy, dan Martell. Masing-masing memiliki keluarga-keluarga lain yang bersumpah setia kepada mereka. Misalnya, House of Stark. Di bawah klan ini terdapat House of Bolton, Glover, Karstark, Mormont, Umber, dan Cassel. Saat itu yang menjadi raja di King’s Landing adalah Robert Baratheon dan ratunya, Cersei Lannister.

Keduanya dari keluarga besar, kaya, dan berpengaruh. Tetapi karena Robert Baratheon suka minum dan wanita, kerajaan ini berhutang banyak kepada keluarga Lannister. Ketika Eddard Stark dipilih menjadi Hand of The King menggantikan Jon Arryn yang terbunuh, dia menghadapi semua kesulitan yang mungkin ada di sebuah kerajaan.
Pertama, keuangan kerajaan dan betapa besar pengaruh keluarga Lannister dalam rumah tangga kerajaan. Kedua, sebagaimana layaknya setiap kerajaan, banyak orang bermuka dua atau tiga atau empat yang siap menerkam setiap kesempatan. Ketiga, kenyataan bahwa Robert sebenarnya tidak punya calon penerus takhta karena Joffrey ternyata adalah anak incest Carsei dengan saudara kembarnya sendiri, Jamie Lannister.
Eddard akhirnya tahu mengapa Jon Arryn dibunuh, yaitu karena ia mengetahui rahasia Joffrey. Bermaksud menyelamatkan sahabatnya, Robert, Eddard meminta Carsei pergi dari istana karena ia sudah mengetahui kebenaran tentang Joffrey. Intrik yang rumit segera terjadi. Robert terluka ketika berburu hingga akhirnya meninggal dunia. Sebelum Eddard bertindak, Carsei mendudukkan Joffrey sebagai raja lalu menyingkirkan Eddard Stark dan keluarganya yang ikut ke King’s Landing.
Sementara anak dan istrinya yang tertinggal di Winterfell (karena ketika akan berangkat salah satu anaknya kecelakaan hingga koma) mengumpulkan keluarga-keluarga yang setia kepada Stark mengangkat senjata. Selain tidak mau menyatakan kesetiaan kepada raja baru, Robb, anak tertua Stark, juga ingin menyelamatkan ayahnya. Sayang, sebelum berhasil, Joffrey sudah lebih dulu memutuskan untuk mengakhiri hidup Eddard Stark dan memancangkan potongan kepalanya untuk menunjukkan bahwa si pemilik kepala adalah pengkhianat.
Jaring-jaring kehidupan memang rumit. Di sisi lain, Eddard Stark punya anak haram yang diberi nama Jon Snow. Meski selama ini tinggal bersama keluarga Stark, tapi istri Eddard sama sekali tidak bisa menerima kehadiran Jon. Karenanya ketika Eddard bertugas sebagai Hand of the King, mereka mengirim Jon Snow ke satuan Night’s Watch.
Markas mereka berada di suatu daerah yang lebih dingin dan tinggi daripada Winterfell, yang disebut The Wall. Ini karena posisinya yang berada di atas ketinggian es. Semua orang di sana harus-kudu-wajib mengenakan mantel tebal kalau tidak mau mati. Sebenarnya orang-orang yang menjadi Night’s Watch bisa dikatakan adalah orang-orang buangan. Mereka diambil dari penjahat-penjahat di penjara King’s Landing atau orang-orang yang tidak diakui keluarganya, seperti Jon Snow dan temannya, Samwell.
Para Night’s Watch bersumpah tidak akan memiliki tanah, tidak akan berkeluarga. Yang mereka miliki adalah persaudaraan dengan sesama Night’s Watch. Oleh karena itu, ketika Jon Snow ingin menyelamatkan ayahnya yang dipenjarakan oleh Raja Joffrey, teman-temannya mengingatkan Jon akan sumpahnya. Ia tidak bisa menyelamatkan ayahnya, tidak bisa membantu adiknya memimpin pasukan, bahkan tidak tahu apakah bisa bertemu dengan mereka lagi atau tidak.
Lalu, ada lagi Dany Targaryen, yang terbuang ketika kerajaannya dikalahkan oleh Robert Baratheon. Keluarga Targaryen dikenal sebagai keturunan naga, tapi tampaknya kekuatan naga sudah tidak tersisa lagi. Dia dipaksa kakaknya untuk menikah pemimpin suku Dothraki, Khal Drogo, dengan harapan agar diberi pasukan untuk merebut kembali kerajaannya. Salah satu hadiah perkawinannya adalah tiga butir telur naga.
Dothraki adalah suku nomaden yang cenderung liar. Meski awalnya terpaksa, Dany kemudian jatuh cinta kepada Khal Drogo. Sayang, hubungan mereka tidak berlangsung lama. Dalam suatu pertempuran, Khal Drogo terluka dan tidak dapat disembuhkan. Dany berusaha menggunakan ilmu hitam untuk menyembuhkan Khal, tetapi hal itu justru menggugurkan kandungannya. Selain itu, Khal memang sembuh tapi seperti orang hilang ingatan.
Bagi suku seperti itu, keperkasaan adalah segalanya. Dengan Khal Drogo yang seperti orang linglung, tidak ada lagi yang mengakuinya sebagai pimpinan. Mereka ditinggalkan oleh pengikutnya. Dany akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidup Khal Drogo. Ketika jenazahnya akan dibakar, Dany menempatkan ketiga telur naga di dekat Khal Drogo. Lalu, ketika api berkobar, Dany seperti terhipnotis dan masuk ke dalam api besar tersebut. Keesokan paginya, ketika tempat pembakaran diperiksa oleh anak buahnya yang tersisa, mereka menemukan Dany dan 3 ekor naga kecil….
Saya kok lebih suka cover bukunya daripada poster film serialnya, ya? Meskipun memang posternya sangat menggambarkan singgasana yang diperebutkan itu. Menurut cerita, singgasana itu dibuat dari ribuan pedang yang dilelehkan dan dijadikan satu. Entah bagaimana cara buatnya.
mbak beli buku game of thrones nya dimana?? mohon info.
bisa hubungi saya via mail
catchy.pear@yahoo.de
Mbak tinggal di mana?
Di Times Book Store ada, kok.